Senin, 03 Desember 2012

Pembelajaran Luas juring d`n Tembereng Menggunakan Model Siklus Belajar dengan Teknik Empiris Induktif


     Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya, mempunyai peranan yang penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Matematika sekolah yang merupakan bagian dari matematika yang dipilih atas dasar kepentingan pengembangan kemampuan dan kepribadian peserta didik serta perkembangan ilmu dan teknologi perlu dapat selalu sejalan dengan tuntutan kepentingan peserta didik menghadapi kehidupan masa depan (Soedjadi, 2000:138).

     Kualitas pendidikan matematika di Indonesia pada saat ini masih merupakan salah satu bahan yang menjadi perhatian para ahli pendidikan matematika sekolah. Salah satu faktor penyebab rendahnya pendidikan matematika saat ini adalah model pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Dalam pembelajaran konvensional, pendidik terlalu mendominasi siswa. Dengan kata lain guru menjadi pusat seluruh kegiatan di dalam kelas (teacher oriented). Hal ini dapat menghambat majunya dunia pendidikan, karena guru yang lebih aktif dalam kegiatan belajr mengajar sedangkan siswa terbatas pada mendengar, mencatat, dan mematuhi perintah guru. Dalam kondisi seperti ini siswa bukan lagi dipandang sebagi subjek belajar melainkan objek pembelajaran. Sehingga siswa menjadi kurang serius dalam memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan pengajar. Padahal, siswa seharusnya dituntut aktif mengembangkan segala hasil olahan informasi yang diterima dalam pikirannya selama proses pembelajaran. 

     Penggunaan metode dan media yang tepat dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Keberhasilan dan kegagalan dalam belajar khususnya matematika sangat bergantung pada proses pembelajaran matematika itu dilaksanakan. Oleh karena itu guru matematika hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada sisiwa untuk berpartisipasi aktif, baik secara fisik maupun mental dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas.

     Salah satu bentuk pengembangan pembelajaran matematika yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif adalah pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. Pembelajaran konstruktivisme ini memandang bahwa siswa sendirilah yang aktif membangun pengetahuannya. Seperti yang dinyatakan oleh Renick bahwa seseorang yang belajar itu membentuk pengertian-pengertian (dalam Suparno, 2001:11). Dalam hal ini siswa tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan, melainkan menciptakan pengertian. Pengetahuan ataupun pengertian dibentuk oleh siswa secara aktif, bukan hanya diterima secara pasif dari guru mereka. Hal ini berarti bahwa peserta didiklah yang harus aktif berfikir, merumuskan konsep dan mengambil makna. Sedangkan peran guru adalah membantu proses konstruksi itu berjalan sehingga siswa dapat membentuk pengetahuannya. Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan konstruktivisme adalah penggunaan siklus belajar (Heron dalam dahar, 1991:164). Salah satu teknik penggunaan siklus belajar ini adalah dengan teknik Empiris Induktif.

     Pola pikir dalam matematika sebagai ilmu adalah deduktif. Akan tetapi tidaklah demikian dalam matematika sekolah. Meskipun siswa pada akhirnya tetap diharapkan mampu berpikir deduktif, namun dalam proses pembelajaran matematika, khususnya jenjang SD dan SLTP masih sangat diperlukan pola pikir induktif. Pola pikir induktif yang digunakan ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa (Soedjadi, 2000:45).

     Siklus belajar dengan teknik Empiris Induktif terdiri dari tiga fase yaitu fase eksploitasi, fase pengenalan konsep dan fase aplikasi konsep. Sedangkan penyampaian pesan dilakukan secara induktif berdasarkan pengalaman atau pengamatan yang telah dilakukan oleh siswa. Dalam fase eksploitasi siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka dalam suatu situasi baru. Fase pengenalan konsep dimulai dengan memperkenalkan suatu konsep yang berhubungan dengan fenomena yang diselidiki. Selanjutnya siswa menggunakan atau mengaplikasikan konsep tersebut untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut untuk menyelesaikan masalah. Seperti yang dinyatakan oleh Lawson (dalam Dahar, 1991:164) bahwa dalam teknik Empiris Induktif siswa menemukan dan memeriksa suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus. Selanjutnya mereka mengemukan sebab-sebab yang mungkin tentang terjadinya pola itu.

     Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dengan penggunaan model siklus belajar dengan teknik Empiris Induktif ini siswa dapat lebih memahami konsep-konsep matematika dan penerapannya dalam menyelesaikan masalah sehingga hasil evaluasi pelajaran matematika meningkat.

     Di jenjang Sekolah Dasar siswa sudah mengenal konsep luas dan keliling lingkaran. Akan tetapi pada umumnya luas dan keliling lingkaran yang mereka peroleh bersifat hafalan, dengan kata lain guru langsung menunjukkan rumus keliling dan luas lingkaran dan siswa langsung menerapkannya dalam menyelesaikan soal. Padahal dalam pembelajaran luas juring dan tembereng ini merupakan pengembangan dan perluasan dari pemahaman mengenai keliling dan luas lingkaran sebagai dasarnya. Sehingga untuk memperdalam pengetahuan dan implementasi dari jenjang pendidikan sebelumnya dari konsep luas dan keliling lingkaran yang mereka peroleh bersifat hafalan tersebut untuk dipandang perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk banyak melakukan eksperimen. 

     Harapan dari pola pikir induktif ini, siswa dapat menemukan rumus luas Luas juring dan Tembereng secara empiris berdasarkan pengalaman dan eksperimen yang dilakukannya. Melalui model Siklus Belajar dengan teknik Empiris Induktif, siswa diajak secara aktif untuk membentuk sendiri konsep Luas juring dan Tembereng melalui pengamatan secara langsung terhadap objek yang sedang dipelajari. Dengan kegiatan ini siswa dirangsang supaya mampu melahirkan gagasan-gagasan mereka dan membangun pengetahuan sesuai dengan konsep yang telah dimilikinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar