Selasa, 25 Juni 2013

Analisis VAC (Visual Absorption Capability)

Analisis VAC (Visual Absorption Capability) atau yang disebut juga analisis kemampuan penyerapan visual adalah suatu metode penilaian kemampuan suatu lahan/lansekap yang ditunjukkan dengan adanya perubahan visual sebagai akibat dari kegiatan manusia, atau dapat juga didefinisikan sebagai daya dukung fisik suatu lahan/lansekap untuk meyerap atau menampung berbagai pengembangan dan pengelolaan kegiatan yang diusulkan dengan tetap memperhatikan terpeliharanya kualitas dan karakter visualnya. Dengan kata lain, analisis ini memperkirakan pengaruh-pengaruh visual lansekap dan kondisi fisik alamiah suatu kawasan akan kemungkinan dikembangkannya suatu aktivitas atau kegiatan di kawasan tersebut. Pada prinsipnya, analisa VAC adalah melakukan suatu penilaian terhadap variabel-variabel yang ditentukan dari kondisi-kondisi fisik pada kawasan yang dianggap memiliki pengaruh terhadap penentuan mampu tidaknya suatu lahan untuk dikembangkannya atau penentuan lahan yang perlu tetap dikonservasi atau dapat dikembangkan.
Metode pendekatan dalam pengukuran VAC, yaitu analisis VAC kualitatif dan analisis VAC kuantitatif, sedangkan cara yang digunakan dalam melakukan pengukuran VAC ini, yaitu sebagai berikut :
  1. Dengan menggunakan faktor persepsi, dimana memerlukan sejumlah peneliti yang diletakkan pada suatu titik-titik penting yang sensitif dengan jarak dan waktu tertentu untuk memandangnya.
  2. Dengan menggunakan faktor fisik, yaitu komponen-komponen lahan yang dapat menunjukkan perubahan-perubahan visual sebagai akibat perbuatan manusia (kerapuhan dari lansekap) (Sulaiman dalam Dinanti, 2002), yaitu faktor fisik kelerengan, jenis vegetasi/tetumbuhan, jenis tanah dan penutup tanah oleh vegetasi (kerapatan vegetasi), sedangkan faktor fisik yang lain seperti tata air dan iklim merupakan suatu komposisi yang dapat membangkitkan suatu keindahan, kesegaran dan pemandangan sebagai penunjang dari kegiatan rekreasi.
Terdapat faktor yang penting dalam pengaruh visual sepanjang jalur pandang, yaitu kemiringan/topografi, tetumbuhan/vegetasi dan jenis tanah
  1. Kemiringan/Topografi
Informasi topografi memberikan suatu tinjauan terhadap suatu tempat, apakah berbukit atau dataran, miring secara berangsur atau curam. Secara visual topografi secara bersama-sama tata guna lahan memberikan corak dan kualitas tertentu bagi lansekap.
Faktor topografi yang paling penting bagi kualitas lansekap karena keberadaan atau ketiadaan kontras pada bentuk bumi, yaitu elemen-elemen ketinggian seperti pegunungan terhadap dataran, pegunungan terhadap danau, tanah berbukit terhadap lembah, serta lereng terhadap dataran (Derek dalam Dinanti, 2002). Urutan penilaian dalam analisis VAC diberikan nilai tertinggi untuk lahan paling datar, dan diberikan nilai terendah untuk lahan paling curam.
  1. Vegetasi
Vegetasi merupakan unsur dasar pembentuk lansekap, karena penampakan corak lansekap suatu daerah selain ditentukan bentuk permukaan bumi, juga dipengaruhi oleh keadaan vegetasi yang menutupinya. Secara visual bentuk permukaan bumi dalam keadaan vegetasi yang beragam di atasnya akan lebih menarik jika dibandingkan dengan bentuk permukaan bumi tanpa disertai vegetasi. Selain itu vegetasi dapat menciptakan suasana teduh, segar dan nyaman.
  1. Jenis Tanah
Pengklasifikasian jenis tanah dimaksudkan sebagai dasar untuk menggambarkan tingkat stabilitas, tingkat erosi, kerapuhan dan lain-lain. Pengklasifikasian jenis tanah dapat dibagi menjadi jenis tanah yang tidak peka atau mempunyai daya serap air yang tinggi sehingga dapat menahan erosi, jenis tanah dengan kemampuan sedang untuk menahan erosi, dan jenis tanah yang sangat peka terhadap erosi sehingga memerlukan waktu yang lama untuk mengembalikan pada kondisi semula.